Pages

14 December 2015

AMNESIA


I drove by all the places we used to hang out getting wasted

LOL.  Sadly, so far, we never had such a hang out thing. Should I regret it, or just be okay with it? Maybe if we ever did that, it would be harder for me to forget you. In reality, we were too shy to act. We just said beautiful words that we hoped they would become true, and didn't act. Just let everything continue that way. Uhm, I guess I watched a lot of  films. I put too much hope.

I thought about our last kiss how it felt the way you tasted

Are you fucking kidding me? We never even looked at each other in a near distance. Our eyes never even met. We only smiled at each other, and by that, I was quite happy, and you were too-you said. And those little things, they mattered a lot.

18 August 2015

Tak Lagi


Seakan-akan puisi perpisahan baru saja terucap kemarin, kini kau dan aku bertemu lagi. Ternyata, tidak ada yang berubah. Tidak ada, tetapi nampak begitu jelas di mataku. Caramu tersenyum, kini sunggingan manis itu bukan aku alasan di baliknya. Caramu memandang, pandangan itu kini bukan milikku lagi. Aku dekat denganmu, tapi sinar matamu bukan ke arahku. Matamu berkata, aku tidak ada di dekatmu. Ah, andai kau tahu, irama jantung ini masih sama. Timbul bekas yang begitu dalam. Aku masih bisa merasakan hadirmu dalam sosok lain. Sosok yang begitu beku, sosok yang tidak ku kenal. Mungkin, hanya aku yang tidak berubah.

06 July 2015

Aku Mencintainya

Aku mencintainya seperti bayangan yang mencintai bendanya. Yang tak pernah terpisah walau tak pernah bisa bersama. Yang diam-diam menjadikannya tujuan untuk terus ada dan nyata. Aku tahu aku bodoh, tapi aku tak peduli.

Aku tak peduli. Aku menutup mata, telinga, dan segala indra demi terus bersamanya. Karena yang ku tahu, hanya dialah satu-satunya orang yang tersisa. Di antara banyaknya orang yang terus memunggungiku, dialah yang tetap tinggal.

Hingga sampai akhirnya dusta yang menguak semuanya. Yang memberitahuku kalau dia tidak benar-benar tinggal di sisiku.

***

30 June 2015

Friendzone Story


          Cerita ini diawali dengan kesedihan yang mendalam karena patah hati. Merasakan luka mendalam dan perasaan kecewa. Entah, apakah dia yang jahat, atau aku yang bodoh. Mengharapkan seseorang yang telah mempunyai pilihan. Menjadi pendengar setia curahan hatinya tentang pilihannya, sambil terus berharap ia akan jatuh cinta denganku.

01 June 2015

R I N D U




Terlalu jelas saat dimana bayangmu tak lagi hadir. Mungkin waktu telah menerkamnya. Membakar bayangmu, jadikannya serpihan abu kenangan. Abu yang beku, yang takkan rusak walau diterpa angin. Menyisakan jejak hitam yang sulit dihapus. Serpihan kenangan yang terlalu indah untuk disingkirkan, tapi terlalu menyakitkan jika dibiarkan mengotori. Serpihan yang menyiksa ketika rindu mulai datang menusuk batin. Yang mengharuskan diri membunuh rindu-rindu tak bersalah itu ketika seharusnya dinikmati. Tapi rindu itu semakin dalam, semakin menyakitkan.

10 May 2015

ANDAI

***

Andai kau tahu, ingin ku tetap disini
Tak ingin pergi
Tak ingin langkahkan kakiku
Menjauh



Andai kau tahu,
Di setiap saat kau hadir dalam waktu
Ingin ku hentikan semuanya
Tetap seperti ini
Abadikannya dalam sebuah pigura
Suatu saat kan ku lihat kembali
Betapa indahnya hidup saat itu
Ketika setiap pertemuan adalah sebuah goresan baru di secarik kertas putih
Dan tak ada penghapus yang menghapusnya

11 April 2015

No title

Kosong.
Entah mengapa keramaian ini terasa sunyi, tanpamu.
Bagaikan mengunjungi perpustakaan yang sama, dengan beribu buku yang semuanya telah kubaca.
Salahkah aku merasa seperti ini?
Lidah terasa kaku tiap kali ingin mengatakan sesuatu.
Jemari ini, tak ingin melepaskan kotak itu. Selalu menginginkan kotak itu bergetar.
Lelah telinga ini mendengar kebisingan yang sama berulang kali setiap hari.

10 February 2015

Akhir.

Inilah aku. Sosok yang berbeda dengan diriku yang sebelumnya. Entah mengapa, aku tak pernah menemukan seseorang yang mengerti diriku sepenuhnya. Mereka tak akan pernah mengerti. Mereka tak akan pernah memahami diriku.

Sosokku yang pendiam dan tidak suka berbicara terlalu banyak, tetapi, untuk perasaan yang diungkapkan, sulit bagiku untuk berhenti menuangkannya. Karena selama perasaan itu masih ada, kata demi kata akan terus mengalir.


Mengukir kata demi kata, lewat tulisan.

11 January 2015

Senyuman yang telah hilang.

Dapatkah aku mengulang waktu? Mengalami semua hal indah yang pernah terjadi untuk kedua kalinya.
Pertanyaan yang bodoh. Aku tahu ada jawaban 'tidak' di balik semua itu.