Pages

06 July 2015

Aku Mencintainya

Aku mencintainya seperti bayangan yang mencintai bendanya. Yang tak pernah terpisah walau tak pernah bisa bersama. Yang diam-diam menjadikannya tujuan untuk terus ada dan nyata. Aku tahu aku bodoh, tapi aku tak peduli.

Aku tak peduli. Aku menutup mata, telinga, dan segala indra demi terus bersamanya. Karena yang ku tahu, hanya dialah satu-satunya orang yang tersisa. Di antara banyaknya orang yang terus memunggungiku, dialah yang tetap tinggal.

Hingga sampai akhirnya dusta yang menguak semuanya. Yang memberitahuku kalau dia tidak benar-benar tinggal di sisiku.

***


Kita sudah lama tak saling bertatap mata, tapi aku tak pernah lupa sinar matamu saat menatapku dengan lugu. Aku tak bisa melupakan senyummu yang seringkali membuatku bertanya-tanya, tak ada diksi yang pas untuk mengungkapkan perasaanku dulu. Mungkin, kamu masih ingat, kita dulu masih sangat kecil untuk berbicara dan berbincang tentang cinta. Karena hatimu dan hatiku belum siap memahami yang telah terjadi saat itu, kita menjalani banyak perasaan yang terkesan maya tapi terasa begitu nyata. Setiap pertemuan adalah goresan baru dalam kertas putih. Aku berharap, tak ada penghapus yang mampu menghilangkan hari-hari menyenangkan yang pernah kita lalui dulu. Kalau aku berada di sampingmu sekarang, ingin rasanya aku mengulang segalanya. Kuperbudak waktu, kuhentikan detak jarum jam semauku. Agar yang hadir dalam hari-hariku hanyalah kamu, hanyalah kita, hanyalah bahagia tanpa air mata. Seandainya hal itu bisa kulakukan, mungkin sekarang aku tak akan merindukanmu sesering dan sedalam sekarang.


Kita pernah begitu dekat. Aku dan kamu  bertemu, saling tahu, dan sama-sama memahami bahwa ada sesuatu di hati kita; yang tak bisa dijelaskan kata. Aku menatap matamu dengan tatapan mendalam, aku percaya di sana ada cinta. Cinta yang sama-sama kita rasakan, tapi tertahan dalam hati, berdiam dalam jantung, dan enggan menemukan waktu pengungkapan. Bayangkan, kita bisa bertahan selama itu. Menjalani kisah yang tak pernah jelas dimana ujungnya. Memulai cerita tanpa memikirkan akhir yang jelas. Teka-teki itu membuat aku dan kamu penasaran, lalu kita memutuskan untuk berjalan bersama, walaupun tak beriringan; walau tak saling bergenggam tangan.


Dulu, aku sempat melihat cinta di matamu. Aku melihat dunia yang sungguh belum pernah kusinggahi, aku terjebak dalam bayang-bayangmu; dan aku tak mampu lagi menghindar pergi. Aku berhenti pada sosokmu, sementara ketika aku mulai ingin membangun segalanya bersamamu, kamu malah memilih pergi. Kamu sudah bawa aku berjalan terlalu jauh, aku percaya bahwa kamu akan menemaniku sampai perjalanan kita selesai, tapi ternyata kamu tidak menemaniku.


Kamu berbeda dari yang lainnya. Kamu sederhana, apa adanya, misterius, dan begitu sulit untuk ditebak. Wajahmu bukan pahatan seniman kelas dunia ataupun bikin pabrik yang jelas-jelas sempurna. Aku tak memikirkan bagaimana penampilanmu dan bagaimana caramu menata rambutmu. Aku mencintaimu karena begitulah kamu. Kamu yang sulit kutebak tapi begitu manis dalam beberapa peristiwa. Kamu yang menggemaskan dalam keadaan yang bahkan sulit kujelaskan. Aku sangat mencintaimu dan sekarangpun masih begitu. Sadarkah kamu?


 Aku menunggu saat kita bisa bertemu lagi, saling menumbuhkan rasa percaya juga cinta. Aku menunggu kamu datang, membawa pelukan juga rindu yang kau pendam. Mungkinkah kau punya rindu sedalam dan seluas yang kusimpan? Mungkinkah  kau punya cinta dan sayang sekuat dan seindah yang kupunya? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Kamu begitu sulit kutebak, tapi aku mencintai segala teka-tekimu. Kamu hadir di saat yang tepat, saat aku membutuhkan perkenalan tanpa keribetan, saat aku menginginkan pria humoris di sampingku. Aku menemukan sosok pria idaman dalam dirimu, tapi sepertinya aku bukanlah sosok yang kau inginkan. Aku terlalu buruk untukmu. Aku tak ingin wajah tampanmu bersanding dengan wanita serendah aku. Kamu terlalu sempurna untuk kugapai dan aku hanyalah si buruk rupa yang merindukan takdir indah.


Kalau kau ingin tahu seberapa dalam perasaanku, cinta ini seperti air laut yang enggan surut. Aku telah tenggelam, sementara kamu yang berada di pesisir pantai hanya bisa melambaikan tangan dan menertawakan kesesakanku. Apa yang bisa kau anggap lucu dari perasaan ini? Mengapa kau begitu mudah menjadikan perasaanku sebagai candaan yang kau pikir bisa membuatku tertawa?


Sinaran pesonamu, membutakan segalaku. Begitu mudah aku terjebak bayang-bayang yang kupikir nyata. Begitu gampangnya aku terjerumus pada kesemuan yang tak pernah jadi kenyataan. Harus kularikan kemana cinta yang makin dalam ini? Harus kubuang kemana rindu yang tiba-tiba sering berujung air mata ini? Ketika aku dengan bodohnya berpikiran bahwa kamu akan dengan mudahnya mengerti semua, tanpa harus ku lontarkan sepatah kata. Harusnya, aku tak mempertahankanmu sedalam itu, harusnya aku tak perlu memercayaimu sedalam itu. Tapi, mengapa perasaanku hanya ingin meyakinimu? Mengapa aku enggan melawan ketika kamu menerbangkanku ke angkasa paling tinggi, lalu membiarkanku mengepakkan sayap sendiri?



Aku hanya bingung. Mengapa pertemuan yang begitu singkat bisa memunculkan kesan yang mendalam? Kadang, aku tak sadar, bahwa ketika bibir seseorang mengucap "Hai", sebenarnya saat itu juga aku harus siap pada banyak risiko; risiko kehilangan. Dunia ini penuh teka-teki. Sebagai manusia yang mencoba menjawab dengan perasaan dan otak yang terbatas, kadang aku hanya bisa menangkap isyarat-isyarat kecil saja.

***


Just several paragraphs aligned into a complete story that makes me wanna say RT at the end of every paragraphs.
says a lot about what I feel.
credit : dwitasari

No comments:

Post a Comment

Tell me what you think :)