Pages

30 June 2015

Friendzone Story


          Cerita ini diawali dengan kesedihan yang mendalam karena patah hati. Merasakan luka mendalam dan perasaan kecewa. Entah, apakah dia yang jahat, atau aku yang bodoh. Mengharapkan seseorang yang telah mempunyai pilihan. Menjadi pendengar setia curahan hatinya tentang pilihannya, sambil terus berharap ia akan jatuh cinta denganku.


          Ternyata, move on tidak semudah yang ku kira. Aku lelah terus mengorbankan perasaanku, sebelum perasaan itu dihargai. Tetapi, aku tidak pernah lelah untuk berharap. Itu semua, karena aku mencintainya.

          Sempat terbesit di pikiranku untuk mengakhiri hidup ini hanya karena perasaan terpendam yang sangat menyiksa batin. Perasaan cinta terhadap seseorang yang tak pernah menghargaiku sama sekali.

Hmm, aku hanya tidak bisa mengatasi masalah ini.

Aku tidak boleh menyerah begitu saja.

Aku punya dua pilihan. Menunggu sampai dia jatuh cinta denganku seperti orang bodoh… atau… melupakannya begitu saja dan meyakini bahwa Tuhan tahu yang terbaik.

          Sahabat macam apa itu? Tega melukai perasaan sahabatnya sendiri. Mengapa saat itu ia mendekatiku kemudian membuatku jatuh cinta kalau pada akhirnya kita hanya akan menjadi sebatas sahabat saja? Haruskah aku senang, karena persahabatan adalah satu-satunya cara agar aku bisa dekat dengannya, atau sedih, karena kita akan terus menjadi sahabat, dan tidak akan bisa menjadi lebih dari itu? Tetapi hidup terus berjalan.

Dan aku mempunyai dua pilihan. Merelakannya, atau tetap menunggunya.

          Ah, kenyataan memang pahit. Jatuh cinta dengan sahabat sendiri, sedangkan sahabat kita jatuh cinta dengan orang lain, dan terus-terusan bercerita tentang orang yang dicintainya. Harus benar-benar sabar, dan bertindak seakan-akan semuanya baik-baik saja. Sadarkah kau, telingaku panas saat kau bercerita tentang dia. Mataku sakit saat membaca teks darimu, yang kuharapkan adalah tulisan-tulisan indah tentangku, tapi nyatanya tentang dia. Sadarkah kau, sahabatmu ini jatuh cinta denganmu! Bahkan sahabatmu telah mencintaimu sebelum dia menjadi sahabatmu. Sadarkah kau? Kau terlalu buta untuk semua itu.

Aku lelah terus-terusan seperti ini. Aku lelah, sahabat. Jika saja aku tidak punya perasaan apa-apa, mungkin aku tak akan bertahan sejauh ini. Apalagi, mempertahankan sesuatu yang bukan milikku sendiri.

          Ingin sekali aku seketika pergi dan menghilang dari kehidupanmudan kau tidak akan merasakan kehilangan. Meskipun terkadang aku selalu merindukan senyummu, yang membuatku enggan  pergi. Ketika hati yang egois ini masih ingin bersamamu, melalui hari bersamamu, meskipun aku hanyalah tidak lebih dari sebatas sahabat bagimu. 

          Bisa kita tukar posisi? Kau menjadi seseorang yang setiap hari terluka karena perasaan yang kau pendam terhadap sahabatmu sendiri, dan aku, menjadi seseorang yang setiap hari baik-baik saja. Menjalani hidup dengan semangat karena mempunyai seseorang yang kita cintai, serta sahabat yang setia mendengarkan curahan hatiku.

          Sahabat, jika aku menjadi dirimu, aku takkan melukaimu seperti kau melukaiku. Kau membuatku bahagia ketika harus duduk berdampingan denganmu, tapi juga membuatku terluka secara perlahan. Kau ambil seluruh ruang di hatiku, membuatku berpikir kau satu-satunya orang paling sempurna yang pernah kutemui. Membuatku berpikir luka pahit yang menyakitkan ini adalah sesuatu yang manis.
Ku harap kita bisa bertukar posisi, agar kau sadar apa yang kurasakan, berharap kau mau berbalik hati. Tapi di sisi lain, aku tidak mau kau merasakan penderitaan yang sama sepertiku. Aku tidak mau kau terluka. Aku tidak mau kau merasakan sakitnya memendam perasaan cinta untuk seseorang yang tak pernah menghargaimu. Ini terlalu sakit untukku, terlebih lagi untukmu. Aku hanya tidak mau melihatmu–orang yang kucintai terluka.

          Sahabat, mungkinkah aku yang bodoh? Berharap kau mengerti semuanya tanpaku mengatakannya padamu? Ya, mungkin aku bodoh. Tak salah jika kau tak pernah mengerti. Tak salah jika kau terus dan terus melukaiku. Tak salah jika kau tak sadar.  Bagaimana aku bisa mengatakan semuanya, ketika melihat sosokmu saja hatiku sudah berdebar-debar? Apalagi ketika kau berbicara padaku, jantung ini semakin cepat berdetak. Itu masih belum seberapa. Ketika kau tersenyum, kau membuat hatiku luluh. Membuatku nyaman bersamamu sebagai sahabat, meskipun hatiku menginginkan lebih. Memberiku harapan–mengetahui kau tersenyum saat bersamaku.

          Bagaimana jika aku harus mengatakan semuanya kepadamu? Sedangkan menatap mata indahmu saja membuatku detak jantungku tak karuan. Jika aku mengatakan semuanya, mungkin kau akan mengenangku sebagai sosok paling bodoh yang pernah kau kenal.  Seseorang yang rela menyakiti dirinya sendiri, setelah mengatakan perasaannya kepada seseorang yang sudah jelas-jelas tidak memiliki perasaan yang sama.

          Jika saja aku tidak berpikir sejauh itu, mungkin kan ku biarkan mulutku melontarkan kata-kata semauku dan ku biarkan kau melukaiku. Sudah sepantasnya aku terluka. Ini memang salahku.


Mengapa cinta bahkan ada? Mengapa cinta bahkan diciptakan? Mengapa aku harus jatuh cinta?

***

No comments:

Post a Comment

Tell me what you think :)